Rabu, 15 Agustus 2012

Cerpenku (Catatan Hati di Setiap Sujudku)


Catatan Hati di Setiap Sujudku
Karya : Sisca Dyah Octaviani


Sebelumnya hidupku berjalan ibarat sebuah mobil kelas menengah dengan perawatan lumayan dan supir yang handal, melaju dijalan antar kota yang lengang. Tak ada hambatan berarti diperjalanan hidupku, hanya sesekali bertemu dengan tikungan tajam, namun tak ku hiraukan mobil tetap berjalan dan aku masih melihat pemandangan indah diluar sana. Aku belum mengerti bahwa tak selamanya jalan itu rata.
Pada saat itu aku masih duduk dikelas 9 SMP, yah beberapa bulan lagi aku menempuh Ujian Nasional, hari yang menentukan  aku lulus atau tidak selama belajar 3 tahun di salah satu SMP Negeri 20 Semarang, disana aku tergolong siswa yang berprestasi, selalu mendapatkan rengking 5 besar dikelas. Aku belajar sungguh-sungguh demi kelulusan itu, selalu optimis mendapatkan yang terbaik. Bahkan aku berdoa dengan doa yang istimewa kepada Allah. Doa itu berisi : Ya Allah, Aku ingin sekali diterima di SMA itu...
Hari demi hari ku lalui, hingga suatu ketika aku dikenalkan seorang teman namanya Lutfi siswa SMP 39 Semarang oleh Ratih teman sekelasku. Hingga Ia menjadi cinta monyetku, ya pacar pertamaku ... cinta yang dangkal sering kali dianggap cintanya anak kecil.
Dini hari, aku terjaga oleh samar-samar bunyi ponsel.
“Tiit ...tiiittt.....” Ada SMS pikirku. Rasa kantuk yang masih menggelayut, membuatku enggan bangkit dari peraduan.
“Ah, nanti saja. Paling-paling SMS tidak penting.”  Aku pun kembali terlelap.
Tiba-tiba saat aku bangun, ibuku sudah berdiri disamping tempat tidurku dengan membawa ponselku yang tadi berbunyi. Ibuku mengintrogasiku setelah membuka isi pesan itu.
“SMS dari siapa ini Sis? Lutfi itu siapa ?” Tanya Ibu penasaran.
“Bukan SMS dari siapa-siapa bu, mungkin itu salah kirim.” Jawabku dengan gugup.
“Kamu masih kecil nduk, jalanmu masih panjang, belajarlah yang rajin biar kamu kelak jadi orang. Semua pasti ada waktunya.
Aku tersentak, aku sadar bahwa perkataan ibu tadi menyudutkanku, Aku ketahuan!
Seakan tak menghiraukan nasihat Ibu, Aku tetap melanjutkan cinta monyetku dengan Lutfi sampai detik-detik Ujian Nasional berlangsung. Aku merasa sangat optimis mendapatkan nem sesuai targetku untuk bisa masuk ke SMA Negeri pilihan ku itu, aku rajin mengikuti les, sampai 4 kali trayout lulus dengan hasil yang memuaskan, saat itu aku sangat yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa istimewaku itu. Aku semakin terobsesi hingga saat pengumuman itu tiba, tetapi apa yang terjadi? Aku dinyatakan  Lulus dengan jumlah nem yang sangat jauh dari harapanku.
Begitu mencengangkan, Aku tak mengerti kenapa Aku harus mengalami ini, padahal semua persiapan nyaris sempurna. Kegagalan itu merupakan pukulan pertama yang membuatku benar-benar terpuruk, Aku kehilangan selera humor sampai sekitar 1 Minggu. Aku merasa begitu frustasi.
“Kenapa begitu sulit mendapatkan nilai yang bagus, padahal beberapa teman memperolehnya dengan sangat mudah bahkan dengan tanpa belajar sekalipun ?
“Lantas Aku sekolah dimana dengan NEM cuma segini ?”
Terbesit dipikiranku, kesalahan yang membuatku terhenyak. Kesalahan yang tak terpikirkan sebelumnya. Aku sangat menyesal tidak menuruti kata Ibuku dulu, mungkin ini yang namanya hukum karma seperti Malin Kundang bedanya aku tidak dikutuk menjadi batu. Satu hal yang aku lupakan, bahwa restu orang tua itu diatas segala-galanya.
“Maafkan aku Ibu...
“Teruslah berdoa, nduk. Kami tahu engkau sudah berusaha sekuat tenaga, tapi nasib berkata lain. Kami bangga nduk. Jangan menyerah ya, Engkau sudah sejauh ini.” Kata Ibu menenangkanku.
“Aku tidak bisa lupaka hari itu, Aku nyaris tidak percaya, hari dimana Aku berharap bisa masuk SMA yang ku inginkan itu.  Tapi kenyataannya harus ku kubur dalam-dalam, harapan tinggal harapan. Ya Allah betapa tak terduganya skenario waktu. Hati ku tak henti melesatkan Doa, sambil menahan air mata yang mendesak-desak di pelupuk. Inilah masa dimana aku berhadapan dengan jalan yang tak rata. Sungguh sulit mengucapkan itu, tapi toh aku harus mengambil keputusan, hingga akhirnya aku memilih SMA yang tidak pernah terbesit untuk  sekolah disana tapi takdir berkata lain dan sampai sekarang aku masih belajar disana. SMA N 1 Karangtengah Demak.
Aku tak boleh terbawa perasaan, Aku disini untuk bangkit dan tegar. Aku menengadah menatap langit Demak dari jendela ruang kelas X-5. Begitu bersih dan luas. Aku masih menghirup udara, batinku berkata “ Allah masih temaniku memulai perjalanan baru ini.
Ternyata sekolah di Demak adalah hal sulit yang ku alami. Bukan, bukan karena Aku takut kehilangan kelayakan hidup, tetapi yang paling menyiksa adalah aku harus berpisah dengan ke empat sahabat karibku Alifia, Nisa, Wulan, Eneng. Melewatkan hari-hari tanpa mereka disisiku ? bisakah ? setiap momen bersama mereka, bahkan yang sederhana sekalipun kini kurindukan. Lagi- lagi aku hanya bisa menengadahkan tangan meminta-Nya menguatkan ku.
Hari demi hari ku merasa sendiri tanpa mereka. Aku merasa seperti orang yang kalah dan tak punya apa-apa. Sampai kusadari aku masih memiliki Allah, Aku mulai mendekat kepada-Nya lebih tulus. Jika sebelumnya aku berdoa dengan perasaan bingung bercampur kalut, kini aku mencoba memasrahkan semua perasaanku pada-Nya. Sejak itu ku tata kembali hatiku. Seusai shalat malam, aku mencurahkan semua isi hatiku pada-Nya.
Hal- hal yang dulu tidak aku lakukan, tiba-tiba menjadi aktifitas rutinku. Bahkan aku mengikuti petunjuk sebuah buku Doa. Aku berkomitmen tidak akan jatuh di lubang yang sama. Aku tidak ingin pacaran dulu sampai cita-cita besarku terwujud. Rasanya semua upaya aku kerahkan agar bisa semakin dekat dengan Allah. Semua itu kemudian membuatku bisa berfikir positif dalam menjalani hari-hari baruku. Bertemu dengan teman-teman baru, guru baru, dan lingkungan baru.
Walau tidak aku pungkiri, awal-awal masuk sekolah selalu menjadi petualangan baru buatku. Entahlah, meski ada satu dua insiden yang menyebalkan namun aku masih bisa melalui semuanya dengan lapang dada.
Aku tetap bersekolah dengan normal, mendapat nilai nilai yang normal bahkan terbilang berprestasi disekolah, menjadi juara karya tulis ilmiah, menjadi Paskibraka Kabupaten, bahkan hal yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya, aku jadi ketua OSIS. 
Aku mencoba mencari maksud Allah disini, ternyata disekolah ini aku diberi kesempatan belajar kesederhanaan hidup dari teman-teman yang baru. Aku menemukan cita-cita ku yang sempat kulupakan dan kini akan kuperjuangkan kembali. Bertahun aku belajar dalam ketekunan doa, dalam keyakinan yang pasti. Namun kenyataanNya  ada hal lain yang kemudianaku sadari. Semakin aku belajar, kian aku sadar masih banyak yang belum aku tahu tentang islam. Semakin aku mengerti betapa masih sangat jauhnya aku dari perintah-perintah Allah. Tiba-tiba aku sadar,  aku malu menagih doa-doaku. Betapa tidak sopannya aku, meminta doa mendesak pada yang Maha Kuasa, tapi aku tidak memperdulikan permintaan-NYA, Aku masih belum berjilbab!
Kisah hidup yang tak rata memasuki babak berikutnya...
Ibu memang sosok yang hangat. Dalam bayanganku, kebahagiaan bersama ibu akan terus kualami. Hingga ujian terberat itu datang.
Awalnya, ibu sering merasa masuk angin. Dadanya sering sesak dan terasa perih. Kami mengira ibu hanya masuk angin karena terlalu lelah. Ibupun mencoba meminum obat masuk angin biasa. Tapi rasa sakit di dada sebelah kanan ibu tak kunjung sembuh. Merasa tidak nyaman, ibu lalu memeriksakan diri kedokter.
Tidak disangka-sangka, hasil pemeriksaan itu membuat kami sekeluarga risau. Bagaimana tidak ? kata dokter, di dada sebelah kanan atas ibu terdapat sebuah benjolan. Dan kemungkinan besar itu adalah tumor!
Masya Allah!
Beberapa hari kemudian ibu diminta kerumah sakit untuk memeriksakan benjolan itu lebih lanjut, tentu saja dengan persetujuan Bapak. Dokter akan meneliti lagi, benjolan itu berjenis apa. Apakah hanya tumor jinak atau tumor ganas.
Kami sekeluarga merasa takut. Takut sekali. Disatu sisi aku tidak mau percaya pada kata-kata dokter dan berharap dokter salah mendiagnnosa. Tapi di lain sisi, jauh didalam lubuk hatiku, aku sangat bertanya-tanya. Benjolan apa yang bersarang di pundak ibu ? ternyata kata dokter, itu tumor
Ya Allah, Ya Rabb..apa dosa yang telah kami perbuat ? Mengapa ibu yang harus menanggungnya? Hukumanmu-Mu kah ini, ya Robbi? Tetapi kenapa harus kami,     ya Allah?
Hatiku gundah, hampir tidak percaya itu menimpa ibu. Ibu yang kami cintai, ibu yang selama ini menjadi pelita dalam keluarga, ibu yang membuat duniaku dan adiku penuh warna.
Siang dan malam aku berdoa. Bapak menguras habis tabungan. Itupun belum cukup. Bapak terpaksa menebalkan muka berhutang sana-sini untuk membiayai ibu berobat. Tapi tidak ada jalan lain kecuali mengikuti anjuran dokter. Ibu harus segera di operasi. Ya Allah, jadikanlah cara ini sarana untuk menyembuhkan ibu. Hatiku menangis, menjerit pilu melihat kondisi ibu yang kian hari kian sakit-sakitan.
Aku, bapak dan adik harus pandai-pandai mengatur waktu untuk bergantian menjaga ibu dirumah sakit. Sering kupandangi jari-jari tangan ibu. Jari-jari yang dulu pernah merawatku. Memandikan dan menyuapiku. Yang dulu memasang kancing-kancing bajuku. Kini terkulai lemah, tak berdaya. Ahh ibu... air mataku berderai-derai.
Ya Allah, hatiku meronta-ronta dan terasa sangat pilu menghadapi semua ini. Tolong sembuhkan ibu ya Allah, agar semua kembali berjalan normal. Sekali lagi kumohon ya Allah..
Proses operasi pengangkatan tumor didada ibu akhirnya selesai juga. Itu merupakan perjuangan berat yang harus ibu jalankan. Dokter memberi kabar bahwa operasi memberikan hasil yang melegakan. Benjolan di dada ibu berhasil diangkat. Kami sekeluarga memiliki harapan yang besar atas kesembuhan ibu. Kini tinggal proses pasca operasi dan menunggu kesembuhan ibu. Alhamdulillah, Allah menjawab doa orang-orang yang menyayangi ibu termasuk aku. Ibu sehat kembali seperti sedia kala.
Terimakasih ya Allah. Doaku telah engkau kabulkan , batinku penuh rasa syukur.
Allahu Akbar ! di saat aku telah putus asa dengan keadaan. Dengan kekuasaan-Nya, Dia melepaskanku dari kesulitan. Dan membuat impianku menjadi kenyataan. Semua hal baik itu benar-benar terjadi. Terkadang aku masih meras takut semua keajaiban ini hanyalah mimpi. Namun, saat kupandang keluargaku menikmati suasana sore dengan wajah canda tawa, aku tahu ini nyata. Terimakasih Ya Allah …
Kejadian ini membuatku semakin percaya akan keajaiban doa. Semakin yakin bahwa tidak ada yang tak mungkin bagi Allah SWT. Mohonkan pintamu pada-Nya dengan khusyuk dan pasrah. insyaAllah, Dia akan berkenan mengabulkannya. Karena Dialah Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang pada hamba-Nya. Dan tidak ada sesuatu yang sia-sia dihadapan Allah. Semua akan indah pada waktunya.
Terdengar sederhana, namun dahsyatnya luar biasa kurasakan. Betapa jelas pertolongan-Nya. Aku larut dalam sujud syukurku, meyakinkan hatiku bahwa aku bisa melalui semua ini.

Semoga saja ya Allah,
Dosa-dosa kami tergugurkan lewat ujian ini.
Dan kami terlahir kembali
Menjadi pribadi yang soleh dan solehah
Yang makin dekat dengan-Mu.

                                                           

Selasa, 14 Agustus 2012

PUISI (HARGA DIRI BANGSA)

HARGA DIRI BANGSA


Ketika harga diri bangsa ini di injak-injak selama 3,5 abad
Dianggap rendah oleh Mereka yang berkuasa
Kinilah saatnya kita bangkit dari keterpurukan, kehancuran dan tidak berdayaan

Diawali dari untaian benang yang dirajut dan dijahit satu persatu dari tangan seorang wanita
Disanalah tercantum semua impian dan harapan Negara kita
Dan kini telah menjadi kain Merah dan Putih
Sebagai buah lambang Negara Indonesia
Yang selalu dihati dan diperjuangkan

Tahukah engkau ..
Mereka berjuang untuk siapa ?
Mati untuk siapa ?
Dan hidup untuk siapa ?
Mana balas jasamu atas Mereka ?
Mana perjuanganmu atas Mereka ?
Bukan nyawa dan harta yang Mereka inginkan
Tapi,
Jiwa yang tulus untuk mengabdi kepada Indonesia

Apakah Kalian tahu dan berfikir
Diluar sana masih banyak rakyat yang belum merasakan kemerdekaan, kemiskinan, kebodohan, dan kelaparan
Masih saja mendera bangsa ini..
Hanya karena tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab

Koruptor ada dimana-mana
Menghancurkan masa depan bangsa
Bangkitlah Bangsa Indonesia
Bangunlah Negara ini menjadi Bangsa yang beradab
Untuk meraih kemerdekaan yang sesungguhnya

Wahai pemuda -pemudi Indonesia
Teruskanah perjuangan Bangsa ini
Lanjutkanah Cita-cita Mereka
Untuk melihat Sang Merah Putih
Berkibar di  bumi Indonesia

Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan yang terbaik bagi Bangas ini..
AMIN...